skip to main | skip to sidebar

komunikasi antarpribadi

  • Entries (RSS)
  • Comments (RSS)
  • Home
  • About Us
  • Archives
  • Contact Us

Friday, December 30, 2011

FENOMENA KASUS BUNUH DIRI KARENA “KOMUNIKASI ANTARPRIBADI” YANG BURUK??

Posted by Inaya at 10:16 PM
Dalam blog saya kali ini saya akan mengangkat kasus dan pembahasan mengenai komunikasi antar pribadi yang sesuai dengan materi yang dipresentasikan oleh kelompok saya di kelas. Jelas sekali komunikasi antar pribadi berbeda dengan komunikasi biasa pada umumnya. Komunikasi pribadipun ada komunikasi verbal maupun non verbal. Komunikasi tidak hanya sekedar komunikasi tatap muka antara dua orang tetapi harus memiliki umpan balik, intraksi, dan koherensi antara kominikator dengan komunikan.
Saya tertarik untuk membahas sebuah kasus yang menarik perhatian saya dan berhubungan dengan materi saya yaitu “komunikasi antarpribadi”. Langsung saja kita membahas kasus dibawah ini :
Fenomena kasus bunuh diri akhir-akhir ini semakin memprihatinkan, justru di tengah-tengah maraknya industri media yang memberi peluang bagi siapa saja untuk saling bersapa atau curhat dengan sesamanya.
Bagaimana mungkin seseorang lebih memilih bunuh diri hanya karena sang pacar selingkuh, misalnya, padahal di sisi lain ada acara Take Me Out dan Take Him Out di televisi untuk memilih jodoh idaman.
          Agaknya, tiada hari lagi bagi siapa pun tanpa media sekarang ini, apalagi televisi kabel kini benar-benar sudah merasuki relung kehidupan keluarga yang paling dalam. Jejaring para blogger pun semakin rapat dan semakin luas, sehingga rasa-rasanya buat apa lagi memendam sendirian semua masalah.
Namun, di tengah-tengah hiruk pikuk media, banyak keluarga justru menjadi kesepian, kekerasan demi kekerasan terus terjadi, kasus bunuh diri meningkat, hanya karena hilangnya suatu mutiara keluarga yakni hubungan antarpribadi atau komunikasi interpersonal.
          Di sisi lain keadaan ini telah membuat kehidupan kita semakin lama terasa semakin rumit, karena banyak sekali peran-peran penting dalam kehidupan telah direnggut oleh industri media. Kondisi ini telah menyebabkan kita saling bergantung satu dengan lainya, sehingga kita merasa perlu untuk saling berbagi dan bekerjasama.
Mau tidak mau, seseorang memerlukan komunikasi interpersonal atau hubungan antarpribadi, terutama untuk dua hal yaitu: perasaan (attachment) yakni hubungan secara emosional dan ketergantungan (dependency) yakni hubungan karena butuh bantuan, dukungan, persetujuan, dan kedekatan.
       Mengapa pembahasan hubungan antarpribadi ini menjadi penting? Menurut pakar komunikasi Beebe& Beebe serta Redmond (1996), ada empat manfaat perlunya mempelajari hubungan antarpribadi ini yakni dapat memperbaiki hubungan / komunikasi keluarga, hubungan dengan teman-teman, hubungan dengan rekan kerja, serta untuk kesehatan fisik & emosional.
Ini menunjukkan bahwa hubungan antarpribadi memainkan peran penting dalam membentuk kehidupan kita. Kita bergantung kepada orang lain dalam perasaan, pemahaman, informasi, dukungan dan berbagai bentuk komunikasi yang mempengaruhi citra diri kita, dan membantu mengenali harapan-harapan orang lain. Seberat apa pun masalah, sebenarnya dapat diungkapkan kepada orang yang kita pilih.
      Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa hubungan antarpribadi dapat membuat kehidupan menjadi lebih berarti. Sebaliknya, hubungan yang buruk bahkan membawa efek negatif bagi kesehatan fisik dan emosional.
Dengan mengamati faktor-faktor penyebab bunuh diri yang dikemukakan sejumlah psikolog di media massa, tampaklah ada satu konsep komunikasi antarpribadi yang terabaikan dalam kehidupan hubungan keluarga yang cukup penting yakni self disclosure atau dalam bahasa sehari-hari curhat atau pengungkapan diri.
      Para korban bunuh diri ini menyimpan dalam-dalam semua persoalan hidupnya. Kesedihan yang berlarut-larut dibiarkan semakin terbenam, sehingga mereka tidak lagi melihat jalan keluarnya. Faktanya, dalam kehidupan sehari-hari, justru banyak orang yang tidak sanggup melakukan self disclosure. Padahal, self disclosure ini sangat penting dalam membantu mengurangi beban masalah.
       Ada salah satu penelitian mengenai konsep self disclosure anak perempuan dengan ibunya denganpenelitian para pelajar SMA, yang menunjukkan bahwa ternyata anak ? anak perempuan lebih suka curhat dengan teman sebayanya dibanding dengan ibunya sendiri.
Ini menunjukkan bahwa sang ibu belum mampu membangun hubungan antarpribadi dengan anak perempuannya sendiri, karena ibu kurang memahami perkembangan anak, terlalu sibuk dan tidak mau mendengarkan anak.
      Masih ada ibu yang memperlakukan anak gadisnya seperti anak balita dan tetap menunjukkan kekuasaannya sebagai ibu. Kalau ingin membangun hubungan antarpribadi, maka mau tidak mau ibu harus dapat menjadi teman anaknya sendiri.
Ada juga penelitian mengenai hubungan ibu bekerja dengan anak-anak berprestasi yang menunjukkan bahwa korelasi keduanya sangat kuat. Ternyata, ibu-ibu bekerja tetap dapat memberi kontribusi yang sangat berarti bagi prestasi anaknya sepanjang dia dapat membangun hubungan antarpribadi dengan anaknya. Ibu ini di tengah kesibukannya masih sempat `mendengarkan` anaknya. Bukankah anak-anak kecil sekarang ini rata-rata juga punya telepon seluler.
         Dari berbagai fakta di lapangan, tampaklah betapa pentingnya peran orangtua sebagai penanggungjawab utama dalam keluarga untuk membangun lingkungan keluarga yang harmonis dengan mengembangkan hubungan antarpribadi.
Orangtua dapat menjadi teman bagi anak-anaknya, dapat menjadi konsultan ketika diperlukan, dan di sisi lain dapat menjadi `penguasa` pada saat tertentu terutama ketika anak dihadapkan pada situasi pelik.
        Dalam pembentukan sifat dan sikap anak, komunikasi dengan orangtua merupakan faktor penting. Cara orang tua berkomunikasi dengan anak sebaiknya bersifat mendukung dan mengontrol.
Pesan-pesan orang tua yang bersifat mendukung ternyata akan membuat anak lebih percaya diri, sedangkan penolakan yang merupakan kebalikan dari dukungan ternyata menimbulkan ketergantungan dari anak yang sangat besar kepada orang lain, khususnya kepada orang tua.
Proses komunikasi akan terhambat karena adanya sekatan-sekatan dalam kehidupan keluarga, atau terlalu banyak larangan yang mengekang anak. Kalau begitu apakah rahasia untuk membangun hubungan antarpribadi dalam keluarga?
Rahasia sukses hubungan antarpribadi dalam keluarga sebenarnya sangat sederhana. Seorang profesor komunikasi mengungkapkan dalam berbagai tulisannya bahwa rahasianya ada di meja makan.
“Biasakanlah makan malam bersama di meja makan, dan di meja itulah dibangun suatu iklim komunikasi yang demokratis, karena ayah ibu dan anak berada pada posisi yang sama,” katanya.
Di meja makan ini pula, anak-anak bisa melakukan self disclosure, sehingga ibu ayah dapat mengerti persoalan yang dihadapi anaknya. Sebaliknya, orang tua juga dapat melakukan self disclosure dengan anaknya, sehingga anak-anak pun memahami persoalan yang dihadapi orangtuanya.
         Selain memberi banyak manfaat, di sisi lain self disclosure ini juga dapat menimbulkan bahaya. Oleh sebab itu, janganlah melakukan self disclosure hanya untuk menyakiti teman atau orang tua, mengungkapkan sesuatu yang terlalu pribadi, dan jangan menjadikan self disclosure sebagai bentuk pelarian.
Dengan terus menjalin komunikasi antarpribadi ini, kita terus belajar menerima orang lain apa adanya sehingga dengan kata lain kita tidak akan pernah memaksakan kehendak kita sendiri dan kita juga hendaknya jangan sampai menyimpan dalam-dalam segala masalah sendirian, karena semuanya pastilah ada jalan keluar.
(sumber : *DR. Artini Suparmo/an/z, matanews.com)
0 comments
Email This BlogThis! Share to X Share to Facebook
Newer Posts Home
Subscribe to: Comments (Atom)

Sponsored

  • banners
  • banners
  • banners
  • banners

Blog Archive

  • ▼  2011 (1)
    • ▼  December (1)
      • FENOMENA KASUS BUNUH DIRI KARENA “KOMUNIKASI ANTAR...

Followers

blog ini disusun untuk memenuhi tugas bisnis komunikasi

Followers

About Me

My photo
Inaya
nay itu suka membaca dan menulis (kalau lagi terpaksa karena tugas), hehehhe... mudah bersosialisasi dan beradaptasi dimanapun dan kapanpun, kecuali di hutan belantara yang tdk ada manusia, hehee
View my complete profile
Powered by Blogger.

Blog Archive

  • ▼  2011 (1)
    • December (1)

 

© 2010 My Web Blog
designed by DT Website Templates | Bloggerized by Agus Ramadhani | Zoomtemplate.com